Wir
ausaha boga memang tidak ada matinya. Modal yang tidak terlalu besar serta laba yang menjanjikan bisa didulang
dari bisnis makanan. Salah satunya adalah usaha bakso, hidangan berkuah favorit tua dan muda.
Bakso adalah bahan pangan yang terbuat dari daging sebagai bahan utama. Baik daging sapi, ayam, ikan, udang, bahka
n cumi-cumi. Daging dihaluskan dan dicampur dengan bahan tambahan lain serta bumbu-bumbu sehingga bakso menjadi lebih lezat. Umumnya bakso dibentuk menjadi bulatan-bulatan menyerupai bola, karenanya orang barat menyebutnya sebagai meat ball alias bola daging. Cita rasa bakso yang lezat dan tekstur yang kenyal menjadikan bakso disukai anak-anak hingga orang dewasa. Bakso umumnya diolah menjadi beragam hidangan, seperti bakso kuah, bakso panggang, sate bakso, tumis bakso dan beragam hidangan bakso lainnya.
“Bakso ”, pengusaha tamat SLTP dari Jawa Tengah, Semarang, saat kini memayungi usaha bakso dijakarta dengan omzet total 250 rupiah per hari baksonya sampai habis, kalau tidak habis baksonya omzetnya kecil. Di rumah sederhana yang ditempatkan itu terdapat bangunan kontrakan. rumah sederhana itu hanya sebagain dari aset pria kelahiran semarang 40 tahun.
Melalui usahanya sendiri yang didirikan pada Februari 2000 silam, pak kini menjadi juragan waralaba bakso terbesar di Indonesia dengan brand “Bakso Kota Cak Man”. Perusahaan bapak tiga anak ini sekarang membawahi 86 cabang gerai Bakso Kota di seluruh Indonesia. Omzet masing-masing gerai berkisar Rp 3 juta sampai Rp 7 juta per hari, atau sekitar Rp 500 juta per hari untuk semua outlet.
Dari total penjualan kotor per bulan, lima persennya masuk ke kantong Cak Man sebagai royalti frenchise. Jadi hanya dengan ongkang-ongkang kaki, Cak Man bisa mengantongi pendapatan Rp 100 juta per bulan. Penghasilan sekelas dirut BUMN itu ternyata belum termasuk keuntungan dari enam outlet yang dikelola sendiri oleh Cak Man di Kota Malang.
Commentar