Ini bukan cerita tentang novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi yang menggemparkan itu. Bukan juga cerita tentang penulis buku Andrea Hirata yang itu. Lalu kenapa judulnya Sang Pemimpi dengan tambahan huruf N di dalam tanda kurung?
…
Dia dilahirkan di tempat yang salah, tanggal yang salah, dan waktu yang salah.
Sebelumnya kupikir begitu, hingga suatu saat kecelakaan menimpanya di suatu waktu. Mungkin pada saat itu hari bertepatan dengan awal minggu, di bulan ketujuh. Seorang ibu yang belum berumur terlalu tua kalau menurutku, melahirkannya dengan susah payah, benar-benar payah. Bagaimana tak payah kalau taruhan nyawanya menjadi tumbal kelahiran jabang bayi itu. Jangan tanya kelahirannya diharapkan atau tidak, karena kau tak akan pernah tahu. Tentang semua kelahiran yang ada di alam semesta ini, itu urusan-Nya. Tak ada yang boleh tahu, entah itu maksud, tujuan, ataupun hal-hal yang berhubungan dengan itu. Tak ada yang boleh tahu. Bahkan konon katanya malaikat pembawa pesan untuk para Nabi dan Rasul pun tidak diberi tahu oleh-Nya.
Siapa ayahnya? penulis cerita ini tak tahu siapa ayahnya. Kadang manusia berbisik-bisik tentang siapa ayahnya.
CUKUP CERITANYA, JANGAN KAU LANJUTKAN!!!
…
Baiklah, ternyata aku tak boleh melanjutkan cerita yang tertulis di atas. Aku tak tahu apa maksudnya, jangan tanya aku, jangan pernah cari tahu bahkan walaupun dalam lintasan pikiran ataupun perasaan. Daripada itu, daripada memikirkan dia yang tertulis di atas, ada baiknya kuceritakan dia yang lain.
Sebelumnya dengan meminta ijin dari dia, aku menuliskan cerita ini untuk dunia, tak ada maksud apa-apa sebelumnya kecuali aku hanya ingin cerita.
Di sekolah kebanggaannya, ia bernasib sial kalau boleh kubilang. Bagaimana tidak sial coba? Mimpinya bukan kuliah di sekolah itu, mimpinya kuliah di sekolah (begitu aku menyebutnya dalam tulisan ini) tinggi milik orang-orang kaya orang-orang cerdas dan berbakat di usianya yang kira-kira bisa dikategorikan usia remaja menurut buku Psikologi Perkembangan terjemahan penulis Elizabeth Hurlock. Bagaimana tentang kemampuannya? tidak ada seorang manusia pun tahu bahkan teman-teman kuliahnya dulu. Ia bernasib untung kalau boleh dibilang, jika dibandingkan orang-orang lain dari kasta di bawahnya yang semangat sekolahnya jauh lebih tinggi daripada dia, tetapi tidak mampu membayar uang sekolah karena ketidakmampuan orang tua yang menyekolahkannya. Sungguh tragis pikirku ketika aku mendengar ceritanya langsung. Apalagi dia bilang “kasta” untuk menyebut orang-orang yang tak mampu karena nasib memang berkata begitu. Waktu kutanya, apakah dia penganut rasisme? dia menjawab bukan. Baginya kata kasta itu lebih suka ia pakai karena di negara ini, hal tersebut masih menjadi penyakit masyarakat yang mengerikan katanya lagi.
Tentang organisasi, ia mengatakan bahwa ia tidak suka memasuki organisasi di sekolahnya, bahkan di sekolah-sekolah sebelum ia pindah satu almamater denganku ia menolak untuk masuk ke dalamnya. Aku membayangkan, ia adalah seorang anti-sosial kalau tak salah dalam pengertiannya tentang term itu di bidang ilmu Psikologi Sosial. Waktu kutanya kepadanya apakah dia anti-sosial, ia menjawabnya dengan lantang dan tegas:
“Aku tidak anti-sosial apalagi autis, camkan itu baik-baik!”
Aku tersentak kaget, tapi masih mencoba untuk tetap tenang, walaupun kesal juga dibentak seperti itu padahal aku menanyakan hal itu kepadanya baik-baik. Nada bicaranya yang kasar, gayanya yang aneh terus menjadi pikiran dalam kepalaku ini. Mungkinkah ia anak indigo? Kalau benar begitu, sungguh beruntung aku waktu itu berdekatan dengannya. Kucoba mengorek tentang sisi kepribadiannya lebih jauh, mencoba menelisik lebih dalam, mungkin saja aku bisa mendapatkan data-data yang kubutuhkan untuk skripsiku nanti.
Untuk beberapa waktu kulihat ia mulai melamun dan mengoceh tentang hal-hal yang tidak masuk akal, tak logis pikirku waktu itu. Kucoba untuk memperhatikan setiap detail hal-hal yang ada pada dirinya, mulai dari warna baju, bentuk rambut, garis muka, bentuk dagu, bentuk kuping, dan bentuk-bentuk anggota tubuhnya yang tampak dari dirinya. Pikiranku mulai bekerja lagi, kupikir ia seorang perfeksionis yang selalu ingin sempurna dan tampil beda. Untuk lebih meyakinkan apa yang kupikirkan aku berniat untuk mengajukan pertanyaan lagi padanya. Entah ada angin apa, padahal tak ada hujan yang deras waktu itu. Ia menyela:
“Hahahahahahaha, kau mau tahu tentang diriku ya? Dasar mahasiswa psikologi, selalu ingin tahu saja.”
Untuk kedua kalinya, aku kaget dan kagetku kali ini tak mampu kutahan dalam reaksi tubuhku yang normal, begitu mengerikan pikirku, aku merinding dan waktu itu terpancar jelas dalam raut mukaku. Hidungku merah menahan malu mengetahui maksud yang ada di pikiranku terbaca olehnya.
“Hahahahaha”, ia tertawa keras-keras tanpa kontrol sambil memegang perutnya yang mulai kesakitan.
…
“Baiklah kalau kau mau tahu, aku akan bercerita daripada kau terlalu pusing memikirkan pertanyaan ini itu dalam otakmu yang bodoh itu.”
“Anjing! Dasar Anjing!”
“Sia-sia saja aku bersekolah di sini. Aku ingin sekali bisa sekolah di tempat itu, di tempat aku bisa mengasah semua kemampuanku layaknya para ksatria-ksatria yang berguru pada Resi Bisma, Pandita Durna, dan Resi Kripa.”
“Kau tahu Pandawa dan Kurawa kan? Mereka bersaudara, satu keturunan darah Bharata, darah para Dewa-dewa yang bersemayam di Kahyangan Suralaya. Suralaya, tempat berkumpulnya para dewa itu dipimpin oleh Seorang Dewa yang disebut Bathara Guru. Bathara Guru adalah saudara Semar (yang sebenarnya adalah titisan Bathara Ismoyo) yang memilih untuk bersemayam di bumi Arcapada, menjaga kedamaian bumi yang waktu itu dihuni oleh para keturunan bharata, Pandawa dan Kurawa.”
“Pandawa itu bodoh! Aku masih tak habis pikir kenapa Puntadewa si sulung yang suka bermain dadu itu mau dibodohi oleh sepupunya, si Duryudana Setan. Setelah kupikir dan kurasakan waktu membaca buku tentang Mahabharata, baru ku tahu ternyata ia begitu karena menghormati Suyudana (Duryudana) bahkan ia sampai berbohong dalam perang besar di kurusetra yang memakan banyak korban itu. Tragis memang, kau tahu? Istrinya, Drupadi yang dalam sejarah versi India adalah istri kelima pandawa. Kupikir Drupadi itu melakukan Poliandri, tapi ternyata pikirku salah lagi-lagi. Ah, logika memang menyesatkan. Aku tak mau berbicara tentang Drupadi, terlalu berbahaya kalau kita berbicara di sini. Yang aku tahu, Duryudana itu memang kurang ajar! Ia rela menyuruh adiknya Dursasana menelanjangi kain sari merah yang dipakai Drupadi. Ah, kalau tak ada Kresna pastilah ia benar-benar telanjang bulat tanpa helai sedikitpun. Kau tahu? Ia tak pernah benar-benar telanjang bulat. Kain Merah itu tak henti-hentinya habis ketika ditarik oleh Dursasana sialan itu. Tapi yang aku salut dari drupadi adalah ia berani mengungkapkan kemarahannya seketika itu juga, dengan bersumpah tidak akan bersanggul lagi sebelum keramas dengan darah Dursasana. Mengerikan sekali akhirnya Werkudoro hilang kesadarannya dan bersumpah juga untuk membunuh sendiri si Dursasana tadi, Darahnya? Ia minum sebagian dan sebagian lagi ia sisakan demi perwujudan sumpah Drupadi. Arjuna? Ah, si mata keranjang itu, aku tak mau berbicara tentangnya, aku tak suka. Nakula dan Sadewa? Kembar identik itu ya? aku ditipu, ternyata kedua orang itu berbeda, benar-benar berbeda satu sama lain.”
“Aku sangat menyayangkan kenapa Puntadewa itu berbohong. Kau tahu? Ia berdarah putih yang artinya suci tanpa noda. Anaknya adalah Pancawala, aku tak tahu siapa dia. Yang aku tahu, ia adalah orang yang ketika perang bharatayudha turun dari keretanya dan pergi ke arah musuh-musuhnya, Kurawa, yang berada di sisi yang lain. Ia memberikan hormat yang tulus setia kepada guru-gurunya yang berdiri di pihak musuh, Bisma, Durna, dan Kripa. Ia (katanya) tidak pernah mau membunuh orang lain. Kenapa? Karena ia akan menyerahkan apapun yang diminta orang lain. Istrinya saja diserahkan, dijadikan taruhan dadu dengan kakak sepupunya, Duryudana yang dihasut oleh Patih Sengkuni. Waktu itu, istrinya bersumpah-sumpah, memaki-maki, mencaci suaminya yang tak tahu diri itu. Istri kok dijadikan taruhan? Lalu ku tahu, semua sudah habis ludes diambil oleh sepupunya yang jahat itu. Istana, Gelar, Kehormatan, Adik-adiknya para pandawa, sudah bukan miliknya lagi.”
“Tapi satu hal yang aku peringatkan padamu, benar-benar aku peringatkan padamu. JANGAN PERNAH MEMINTA NYAWA PUNTADEWA! Bagaimana bisa? Sebelum Bharatayudha, pernah ada kejadian, aku lupa tentang hal itu. Ada seseorang meminta nyawanya, dan apa? IA BERUBAH MENJADI RAKSASA RAMBUT API. MENGERIKAN. TRIWIKRAMA. Selain Kresna, ternyata Puntadewa juga bisa triwikrama. Hal itu terjadi ketika ia diminta nyawanya oleh musuhnya, mengerikan. Kahyangan Arcapada gempar, gonjang-ganjing. Hanya Semar dan Kresnalah (kalau tak salah) yang bisa menurunkan amarahnya. Merubahnya menjadi sosok Puntadewa, Ksatria berdarah putih.”
“Sayang, ia pergi dari dunia ditinggal mati adik-adiknya ketika melakukan perjalanan ke Gunung Himalaya untuk moksa. Hanya Anjing yang setia menemaninya.”
“Kau tahu, siapa anjing itu? Anjing itu adalah titisan Bathara Darma, yang setia menemaninya sampai pintu Nirvana dan disambut oleh Bathara Indera (versi India).”
…
(Untuk Ayahku yang sejak kecil menceritakanku tentang Dunia Wayang. Untuk Kakekku, yang tidak pernah kulihat wajahmu di dunia ini. Untuk Kakak ayahku yang telah meninggal dari Rahim Nenekku. Terima Kasih. Aku bangga menjadi cucumu)
P.s. I Love You
TOKOH UTAMA
Sumber : polaroid.dagdigdug.com
Commentar